NENEK SIHIR, RAMALAN, BINTANG JATUH
Malam ini mencekam, hanya jejak rapuh kaki tergores daun
kering yang mulai lembab. Ditengah hutan dan rumitnya mekanika hati hanya pesan singkat untuk tetap tinggal, "sstt...jangan keluar , nenek sihir
mencari mangsa, nyawapun bisa hilang. Tunggu aku disini." katamu setengah berbisik. Kemudian menyesap cepat ke langit gelap dan beku . Masih sempat kutatap punggungmu lembab oleh rinai gerimis.
Berabad sudah, Malam ini kembali mencekam,
aku tak bisa diam pikiran liar cukup
membumihanguskan niat untuk patuh.
Sebetulnya ada
sedikit ramuan yang kusematkan dalam rencana, dengan peta harta karun aku bisa
kabur dan sekarang aku disini, menatap bintang, melukiskan
sebuah nama, Oh tidak nenek sihir itu mencari mangsa dengan sapu terbangnya, jangan sampai dia menyadari keberadaanku. Aku terusik dengan suara terkekehnya. Aku mengatur nafasku yang sesak untuk tidak bergeming.
Ntahlah, tiba-tiba niat burukku bercengkerama dalam lika liku otakku yang kusut. Daripada aku mati sekarat menunggumu berabad-abad, bagaimana bila dengan sengaja aku serahkan diriku ke tangan nenek sihir, melawan takdir cerita yang seharusnya. Dengan begini akan tersiar kabar hilangnya diriku di hutan pentahbisan nyawa terakhir. Alih-alih bintang jatuh terjadi lebih cepat dari waktu yang diramalkan.
Komentar
Posting Komentar